Darwinisme Digital: Bagaimana Teknologi Mengubah Bisnis Menjadi Lebih Baik

oleh Brian Solis dari Altimeter Group

Media sosial, perangkat nirkabel, Internet of Things, real-time, merupakan sebagian contoh kecil teknologi yang telah berhasil mengganggu pasar. Melalui perubahan cara manusia berkomunikasi dan saling terhubung membawa dampak yang sangat besar bagi bisnis dan hampir seluruh hal yang terlibat didalamnya. Teknologi tanpa henti selalu terhubung dengan kehidupan manusia.

Ancaman dan peluang nyata yang ditemukan dari teknologi dapat dilihat melalui evolusi perilaku, nilai, serta harapan hampir seluruh manusia yang terlibat. Perusahaan dihadapkan pada pilihan yang membingungkan antara mengalokasikan dana untuk perkembangan teknologi yang selalu abstrak dan berkembang pesat atau mengalokasikan dana untuk strategi bisnis biasa.

Masa ini merupakan masa Darwinisme digital – era di mana teknologi dan masyarakat berkembang lebih cepat daripada yang dapat diadaptasi oleh bisnis. Fenomena ini memunculkan generasi baru model bisnis dengan kunci “beradabtasi atau mati”. Alih-alih mengganggu pasar saat ini, beberapa perusahaan berwawasan jauh ke depan telah berinvestasi dalam transformasi digital untuk beradaptasi dan mengungguli bisnis lainnya.

Mengapa demikian?

Relevansi. Jika perilaku konsumen berevolusi sebagai akibat dari teknologi, bisnis dapat memutuskan untuk maju dan bereaksi secara terus menerus terhadap perubahan, atau mereka meremehkannya. Salah satu aspek yang paling bermasalah tentang kematangan digital adalah teknologi merupakan bagian dari solusi dan juga bagian dari masalah.

Memasuki era transformasi digital.

Transformasi digital mungkin terdengar seperti sesuatu yang sudah tidak asing sebagai kata kunci fenomena yang dihadapi bisnis saat ini. Fenomena ini menuntut bisnis untuk melihat dunia melampaui apa yang mereka ketahui saat ini. Mulai dari bagaimana perubahan pada hal – hal sederhana di luar bisnis, hingga transformasi filofosofi, model, dan sistem dalam bisnis.

Sederhananya, transformasi digital merupakan dampak yang disengaja dari serangan teknologi agar bisnis mampu beradabtasi dengan evolusi perilaku pelanggan dan karyawan. Ketika teknologi menjadi perlengkapan permanen dalam kehidupan sehari-hari, organisasi dipaksa untuk memperbarui strategi teknologi lama dan metodologi pendukung untuk lebih menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia nyata, kebutuhan penyesuaian menjadi kian wajib.

Transformasi digital yang berfokus pada perilaku penggan sebenarnya menjadikan bisnis lebih manusiawi. Dengan demikian, transformasi digital tidak berbicara melulu tentang pemberdayaan teknologi. Transformasi digital terus mencari cara untuk menggunakan teknologi dalam meningkatkan pengalaman dan hubungan pelanggan. Upaya ini termasuk dalam upaya pertahanan bisnis ketika pelanggan menjadi semakin digital.

Pada masa awal evolusinya, transformasi digital telah memberikan clue tentang perubahan nilai dalam pengalaman pelanggan serta bagaimana seharusnya respon bisnis sebaiknya dilakukan. Bisnis – bisnis yang telah menemukan clue tersebut dan berinvestasi lebih banyak dalam memperlajari perilaku, preferensi, dan harapan dari pelanggan digital akan mendorong bisnis memperoleh keunggulan kompetitif yang signifikan dibandingkan mereka yang memperoleh clue tersebut di masa nanti. Keunggulan investasi teknologi pada suatu bisnis dapat dilihat dari hasil pencarian keberlanjutan atas masalah dan peluang dari evolusi perilaku pelanggan digital. Misalnya,  apa yang secara unik mampu mendefinisikan kepribadian pelanggan kita? Apa yang berbeda dengan perjalanan pelanggan bisnis lainnya? Sentuhan apa yang sering mereka gunakan dan bagaimana cara menggunakannya? Apa harapan mereka, apa yang mereka hargai, dan bagaimana mereka mendefinisikan kesuksesan? Bagaimana mereka dipengaruhi, dan oleh siapa? Bagaimana dan siapa yang pada gilirannya mereka pengaruhi?

Pada akhirnya, transformasi digital bukanlah mode atau tren. Transformasi digital mewakili masa depan bisnis melalui penyelarasan kembali teknologi dan model bisnis untuk mampu belibatkan konsumen digital dengan lebih efektif, termasuk didalamnya mempertimbangkan titik sentuhan dan siklus pengalaman pelanggan. Apapun yang dibicarakan, media sosial, perangkat nirkabel, penyimpanan awan, dan lain sebagainya telah bergabung menjadi kekuatan yang mampu mendorong bisnis keluar dari zona nyaman menuju perwujudan inovasi.

Hasilnya

Peran dan tujuan dari pemasaran sehari-hari, melalui media sosial, web, layanan seluler, serta layanan pelanggan dituntut untuk selalu berkembang dan menyesuaikan dengan evolusi perilaku konsumen digital. Tuntutan ini penting untuk memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan digital yang pada dasarnya lebih terhubung dan cerdas.

Pada intinya, ambisi murni dari transformasi digital adalah menjadikan bisnis lebih relevan di era digital. Jalan menuju transformasi digital mendatangkan imbalan besar bagi bisnis dan pelanggan. Upaya transformasi digital menumbuhkan peluang pasar dan keuntungan yang berskala dan efisien.

Artikel Terkait:

Tanggapan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *